Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO

Selamat Datang di GERAI DINAR SIDOARJO


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, informasi pengguna m-dinar. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.

INFO ...

INFO ........BAGI YANG BERMINAT MENJADI MITRA PENJUALAN GERAI DINAR SIDOARJO. SILAKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL.


Pencarian

Memuat...

Rabu, 02 September 2015

Ketika Diam Adalah Dusta

Oleh : Muhaimin Iqbal


Diam ternyata tidak selalu berarti emas, diam bahkan bisa berarti dusta. Kapan diam kita menjadi dusta ? salah satunya yaitu ketika kita tahu ada kelaparan di sekitar kita dan kita diam (QS 107:3). Sampai sekarang FAO masih memajang di head line country report untuk Indonesiabahwa ada 60 juta orang “…go bed hungry every night…” di Asia Tenggara dan hampir sepertiganya di Indonesia. Untuk tidak menjadi pendusta-pendusta agama kita harus berbuat, dan untuk ini insyaAllah kini sudah tersedia sarananya di hunger.zone seperti yang saya janjikan di Ramadhan lalu.

FAO Hunger Map 
Masalah tuduhan pendusta agama ini adalah tuduhan yang sangat-sangat serius karena yang menuduh adalah Dia Yang Maha Tahu – jadi tuduhannya pasti benar. Bila kita tidak menganjurkan saja untuk memberi makan orang miskin – tuduhan itu sudah berlaku untuk kita.

Maka inilah at least yang harus kita lakukan , yaitu menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Mudah kita ucapkan tetapi berapa banyak ini kita lakukan sudah ? sedangkan di sekitar kita ada 19.4 juta orang lapar atau ada 1 orang lapar dari setiap 13 orang dari kita. 

Senin, 31 Agustus 2015

Ulil Albab dan Bioeconomy

Oleh : Muhaimin Iqbal


Dalam perlombaan mendandani pengelolaan sumberdaya alam dunia, Uni Eropa sebenarnya paling siap karena sejak lima enam tahun lalu mereka sudah memiliki visi bioeconomy 2030.  Namun karena krisis ekonomi yang berkepanjangan di wilayah itu, kecil kemungkinannya mereka akan memimpin dunia dalam bidang ini. Lantas siapa yang sebenarnya layak memimpin dunia di bidang bioeconomy ini ? pertama tentu adalah negeri yang memiliki bio resources besar seperti Indonesia. Tetapi yang lebih dibutuhkan dari sekedar resources fisik dari alam, sesungguhnya yang sangat dibutuhkan adalah manusia-manusia unggul yang disebut ulil albab.

Apa sesungguhnya bioeconomy ini ? secara ringkas bioeconomy adalah pengelolaan yang berkelanjutan dari produksi dan konversi biomassa (biological materials nabati maupun hewani) untuk pemenuhan kebutuhan pangan (food), pakaian (fiber), energi (fuel) dan berbagai F-F lain yang akan saya jelaskan di tulisan ini.

Mengapa dunia sekarang setidaknya ingin menuju bioeconomy ini ? karena adanya kesadaran bahwa pengelolaan ekonomi dunia sampai detik ini dipandang tidak sustainable – tidak berkelanjutan. Ketergantungan pada fosil fuel dan produk-produk turunannya dipandang akan segera berakhir, dan yang dipandang sustainable adalah segala sesuatu yang selalu bisa diperbarui (renewable) – itulah segala sesuatu yang terkait dengan tanaman dan binatang.

Rabu, 26 Agustus 2015

Jalan yang Mendaki Lagi Sukar

Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar

Oleh : Muhaimin Iqbal


Riil atau nyata lawan katanya adalah semu, jadi bila dalam bidang ekonomi kita mengenal sektor riil – diluar sektor riil ini berarti bisa disebut sektor semu ? Aneh kita mendengarnya – tetapi inilah yang sebenarnya nampak jelas dalam beberapa hari terakhir. Semua perusahaan dan kegiatan sektor riil berjalan normal apa adanya, tetapi di dunia yang semu – Rupiah jatuh dan demikian pula bursa saham di seluruh dunia. Anehnya energi kita begitu banyak terbuang untuk merespon yang semu ini ketimbang menggerakkan yang nyata.

Di hari jatuhnya Rupiah menembus angka Rp 14,000/US$ dan harga saham juga jatuh, para pemimpin negeri ini dan pelaku usaha top berkumpul untuk berusaha menyelamatkan Rupiah dan pasar saham. Bahkan menteri BUMN serta merta menggerakkan kekuatan yang ada adalam kendalinya – yaitu para BUMN untuk menggelontorkan minimal Rp 10 trilyun untuk menyelamatkan bursa saham.

Tapi apa maknanya ini ? kalau toh para BUMN memiliki dana lebih begitu besar, apakah benar penggunaannya untuk menyelamatkan 1 atau 2 % IHSG yang memang sedang mengalami trend menurun bersama bursa-bursa saham dunia lainnya ? Apalah artinya  1- 2 % ini dibandingkan dana yang 10 trilyun tersebut ?

Senin, 24 Agustus 2015

Biocomposites : Rumah Tanah Lingkungan Untuk Semua

Biocomposites : Rumah Ramah Lingkungan Untuk Semua

Oleh : Muhaimin Iqbal


Bahwasanya tidak semua yang digagas di Startup Center (d/h Pesantren Wirausaha) berhasil itu benar adanya, bahkan lebih banyak yang gagal dari yang berhasil. Tetapi satu berhasil dari sekian banyak yang gagal, itupun sudah cukup bagi kami. Yang lebih penting adalah tidak menyerah dengan kegagalan dan dapat mengambil pelajaran dari kegagalan-kegagalan tersebut. Demikianlah yang terjadi ketika kami menggagas bahan rumah murah sejak lima tahun lalu, mulai dari teknologi composites,   teknologi sarang lebah (teknosal) sampai teknologi lock brick – semuanya belum berhasil. Maka kami berharap banyak pada exercise keempat kami dengan teknologi biocomposites.

Teknologi composites yang sudah kami kembangkan sejak lima tahun lalu dan sudah sampai membuat kandang kambing dan bahkan juga sebuah masjid dari gedebog,akhirnya belum bisa dikomersialkan karena terbentur salah satu bahan bakunya – yang berupa resin kimia dan mahal. Tetapi dari pengembangan ini, kami bisa menguasai teknologi pembuatan composites.

Teknologi sarang lebih (teknosal) yang kami gagas tiga tahun lalu berlanjut sampai pembuatan mesin nan canggih – yang saking canggihnya – perancang dan pembuatnya sendiri akhirnya menyerah di tengah jalan, meninggalkan mesin setengah jadi yang ngangkrak. Dari sini pelajarannya adalah – jangan membuat mesin yang terlalu canggih, yang belum proven teknologinya !

Kemudian teknologi lock brick yang kami gagas setahun lalu, bahannya melimpah – yaitu tanah biasa – sehingga seharusnya tidak mengalami masalah seperti di gagasan pertama. Mesinnya mestinya juga sederhana – sehingga seharusnya tidak mengalami kendala seperti gagasan kedua. Tetapi belum juga berhasil karena kami terlalu mengandalkan orang lain untuk pengembangan mesinnya.

Maka berangkat dari ketiga pelajaran sebelumnya tersebut di atas, kini kami sedang menggagas solusi yang keempat. Yang tidak membutuhkan bahan baku kimia yang mahal dan tidak baik bagi lingkungan, yang tidak membutuhkan mesin yang terlalu canggih, dan bahkan tidak memerlukan mesin atau alat khusus untuk membuatnya. Solusi yang keempat ini bernama biocomposites.

Berbeda dengan composites pada umumnya yang melibatkan bahan baku berbasis kimia – utamanya resin, biocomposites sepenuhnya menggunakan bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita. Bahan baku utamanya adalah cellulose – yaitu biomassa paling dominan yang ada di alam ini.

Cellulose ada di pepohonan, ada di dedaunan, ada di jerami, kulit gabah, batang jagung, daun nanas dan hampir semua sumber hijauan di sekitar kita mengandung cellulose tersebut. Tentu saja cellulose ini juga insyaAllah akan segera tersedia secara melimpah bersamaan dengan gerakan kita menanam pisang – yang sudahkita launch bebeberapa hari lalu.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengubah bahan-bahan yang ada di sekitar kita – yang selama ini cenderung kita anggap sebagai sampah tersebut – bisa menjadi bahan bangunan ? lagi-lagi Al-Qur’an-lah sumber inspirasi yang tidak pernah habis itu.

Perhatikan binatang yang namanya sampai menjadi nama suatu surat di Al-Qur’an yang surat tersebut disebut juga surat nikmat, binatang ini adalah lebah. Lebah selalu memiliki rumah, dan rumah lebah selalu indah. Tidak ada rumah lebah yang bocor meskipun didalamnya digunakan untuk menyimpan gudang cairan (madu). Tidak ada rumah lebah yang rusak karena hujan apalagi kebanjiran – meskipun dibuat di alam terbuka, dan di daerah dengan curah hujan yang tinggi sekalipun.

Sebaliknya manusia yang cerdas ini, tidak semuanya bisa memiliki rumah. Dan yang memiliki rumah terbaik sekalipun – masih sering terjadi kebocoran disana-sini, dan bahkan juga kebanjiran. Apa bedanya dengan lebah ?

Lebah diberi wahyu oleh Allah untuk membuat rumahnya (QS 16:68) dan itu dikuti para lebah apa adanya –exactly seperti yang diwahyukan. Sementara manusia diberi wahyu oleh Allah untuk menyelesaikan seluruh persoalannya (QS 16:89) – tentu juga termasuk persoalan rumahnya – tetapi manusia suka ngeyel, merasa ilmunya lebih tinggi dari petunjukNya !

Maka bila manusia mau mengikuti wahyu itu dengan sungguh-sungguh, insyaAllah manusia pasti bisa menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya – termasuk dalam hal membuat rumah untuk semua orang ini. Pertanyaan berikutnya adalah ayat-ayat yang mana yang memberi petunjuk kita untuk membuat rumah ini ?

Salah satunya yang sangat jelas dan dekat dengan kita ya kembali ke rumah lebah tersebut – maka satu ayat setelah ayat yang bercerita tentang rumah lebah – Allah memberi isyarat “…Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir” (QS 16:69).

Di ayat lain, orang-orang yang berpikir ini disebut juga orang yang berakal - ulul albab– yaitu orang yang memahami tanda-tanda kebesaran Allah pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam, orang yang selalu mengingat Allah dan memikirkan penciptaan langit dan bumi baik ketika sedang berdiri, duduk maupun berbaring (QS 3 : 190-191).

Maka dengan menggabungkan pemikiran ciptaannNya di langit dan di bumi, serta memperhatikan rumah lebah tersebut di atas – insyaAllah ada petunjuk yang jelas tentang bahan rumah yang melimpah dan terjangkau di sekitar kita.

Mengapa lebah selalu berhasil membuat rumahnya ? dengan mengikuti wahyu – mereka tahu harus membuat rumah dari apa. Yaitu dari bahan yang selalu ada di sekitarnya berupa remah-remah pepohonan, dedaunan dlsb. – itulah yang disebut cellulose.

Lebah pekerja mengunyah-ngunyah remah-remah tersebut menjadi sekecil-kecilnya serat kemudian menyusunnya menjadi rumahnya yang indah. Agar menjadi kuat dan tidak bocor maka rumah tersebut di seal dengan apa yang disebut lilin lebah atau beeswax.

Bagaimana remah-remah yang dikunyah lebah menjadi bentuk serat terkecil tersebut bisa lengket dan kuat membentuk bangunan ? Itulah yang manusia harus pelajari. Dan pelajaran ini oleh Allah ditebarkan di alam semesta yang kita juga disuruh memikirkannya di ayat-ayat tersebut diatas. Lantas apa hubungannya antara rumah lebah, rumah kita dan alam semesta ?


Gravitasi di tata-surya kita
Perhatikan salah satu bagian kecil saja dari alam semesta – yaitu dari tata surya dimana kita tinggal ini. Apa yang membuat bulan mengitari bumi, bumi mengitari matahari dst – berjalan milyaran tahun dengan kokohnya tanpa bertabrakan ? Allah ciptakan perekat diantara benda-benda langit ini yang kita kenal sebagai gravitasi.

Sekarang perhatikan benda-benda yang sangat kecil di alam yang disebut atom, perhatikan susunan atom di molekul air misalnya. Lihat kemiripan susunan atom tersebut dengan tata surya kita – ini menunjukkan Dia yang mencipta tata surya , juga Dia yang menciptakan atom tersebut. Bila pengikat tatasurya itu bernama gravitasi, ’gravitasi’ yang mirip juga mengikat atom hydrogen dan oxygen pada molekul air.

'Gravitasi' antar atom air


Sekarang kembali kepada rumah lebah yang dibuat dari serat-serat yang sangat kecil yang berupa cellulose tersebut di atas. Rumus kimia cellulose itu adalah (C6H10O5)n; perhatikan daya tarik antara elektronnya Oxygen dan proton-nya Hydrogen – dalam ilmu kimia ini disebut Hydrogen Bond atau Hydroxyl Bond.

Dari sini pelajarannya adalah sebagaimana Allah ciptakan grafitasi yang ‘mengikat’ dengan sangat kuat matahari-bumi-bulan dlsb; Allah juga ciptakan pengikat-pengikat yang sangat kuat dalam skala mikro yang disebut Hydrogen Bond tersebut.

Lebah mengikat bangunan rumahnya dengan Hydrogen Bond ini – yang menyatukan cellulose menjadi bangunan rumahnya yang indah. Mengapa manusia repot-repot membuat semen yang mahal – kemudian mengirimkannya ke tempat-tempat yang jauh  - yang membuatnya menjadi semakin mahal, bila disekitar kita selalu ada pengikat bangunan alami yang akan sangat kuat ‘mengikat’ rumah kita tersebut ?


Hydrogen bond dalam cellulose
Itulah yang secara umum sekarang disebut biocomposites itu. Intinya adalah serat-serat alami yang direkatkan juga dengan pengikat alami seperti Hydrogen Bond tersebut. Bila ini hasilnya dipandang kurang kuat untuk kebutuhan manusia, bisa saja ditambah resin yang juga alami untuk menambah kekuatannya. Resin alami ini yang masyarakat kita sudah lama mengenal antara lain adalah gondorukem/ getah damar/ getah pinus dlsb.

Bagaimana teknik detilnya di lapangan ? inilah yang sedang kami coba kembangkan bersama para santri di Madrasah Al-Filaha, berlomba adu cepat dalam penguasaan teknologi dimana teknologi yang sama kini bahkan sudah dipatenkan di Australia.

Teknologi hydrogen bond untuk bahan bangunan dan peralatan rumah tangga dari biocomposites - Australia.


Kelebihannya kita memiliki sumber-sumber biomassa yang secara melimpah bisa menjadi sumber-sumber cellulose sebagai bahan baku utama biocomposites ini, dan tentu juga karena kita memiliki Al-Qur’an. Allah berjanji kitalah yang akan ditinggikan bila kita bener-bener menggunakan al-Qur’an itu sebagi petunjuk dan pelajaran (QS 3 : 138-139). Amin.


Jumat, 21 Agustus 2015

Food, Fuel, Fiber, Fodder and Feedstock (5F)

Food, Fuel, Fiber, Fodder and Feedstock (5 F)

Oleh : Muhaimin Iqbal


Di awal musim dingin empat tahun lalu di Stockholm – Swedia, para ahli dari berbagai bidang berkumpul dalam suatu seminar untuk melakukan assessment – apakah lahan di dunia akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Food, Fuel and Fiber ? (makanan, bahan bakar dan serat untuk pakaian dlsb). Hasilnya sungguh mengkhawatirkan mereka yang hadir, karena menurut hitungan mereka pada tahun 2030 di dunia akan ada shortage lahan minimal 300 juta hektar. Padahal masih 2 F lain yang perlu juga disediakan lahannya , yaitu Fodder (pakan ternak) dan Feedstock (bahan baku untuk rumah, perabot dlsb). Bagaimana kita akan memecahkan masalah ini ?

Ketika para ahli urusan dunia berkumpul, hasilnya adalah kekhawatiran demi kekhawatiran seperti akan shortage-nya lahan produktif tersebut diatas. Mengapa demikian ? Karena se-ahli-ahli manusia ilmunya tetap sangat terbatas, satu bidang ilmu dikuasai – yang lainnya luput.

Ketika para ahli pakan ternak mengkonversi biji-bijian seperti jagung- kedelai dlsb menjadi pakan ternak, yang terjadi adalah shortage pangan bagi manusia. Ketika para ahli energi mengubah penggunaan jagung menjadi bioethanol, masyarakat yang bahan pokok pangannya jagung sampai melakukan huru hara karena menjadi sangat mahalnya harga bahan pokok mereka.

PERGERAKAN HARGA DINAR EMAS 24 JAM

Mengenal Dinar dan Dirham
Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW,”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .
Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association(LBMA).
Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.
Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk..
Copas dari Buku "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham " oleh : Muhaimin Iqbal